Ketika Lesley Hazleton sedang menulis biografi Muhammad, dia terpaku pada sesuatu: Pada malam sewaktu beliau menerima wahyu Quran, menurut sumber awal, reaksi pertamanya adalah ragu, kagum, hingga ketakutan. Namun demikian, pengalaman ini menjadi pondasi untuk kepercayaannya. Hazleton mengajak suatu apresiasi baru mengenai keraguan dan mempertanyakan sebagai landasan dari keyakinan -- sekaligus sebagai akhir dari fundamentalisme dalam bentuk apapun juga.
